BAGAIMANAKAH cara kita berserah diri kepada kehendak Allah?
Apakah dengan pasrah begitu saja, tanpa usaha? Berdoa terus setiap hari, tanpa
bekerja? Bukankah Dia adalah Sang Maha Berkehendak? Mestinya, kalau kita
serahkan saja diri kita kepada Kehendak-Nya, Dia akan membe¬rikan semua yang
kita inginkan..?
Ternyata tidak demikian. Karena kehendak Allah
itu telah ditularkan kepada setiap manusia. Kehendak-Nya telah merasuk dan
meresap ke dalam diri setiap kita. Dan menggerakkan segala peristiwa dalam
kehidupan kita. Dia membebas-kan kehendak manusia untuk bergerak di dalam
Kehendak-Nya di sepanjang dinamika alam semesta. Sepanjang masa.
Ayat berikut ini menggambarkan betapa Kehendak Allah adalah
menjadi sumber bagi kehendak manusia. Tidak bisa manusia berkehen-dak, kecuali
Allah menghendakinya.
QS. At Takwiir (81) : 26-29
Maka kemanakah kamu akan pergi?
Al Qur'an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta
alam,
Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.
Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali jika dikehendaki
Allah, Tuhan semesta alam.
Allah
memberikan kebebasan dengan derajat tertentu kepada manusia. Di awal deretan
ayat di atas, Allah bertanya: kemana kamu akan pergi? Secara implisit Allah
memberikan kebebasan kepada kita untuk memilih arah perjalanan kita.
Kemudian, Dia menunjukkan jalan lurus itu berada di dalam
kitab-Nya, at Qur'an. Akan tetapi Allah tidak memaksakan kepada kita untuk
mengikuti apa yang ditunjukkan oleh at Qur'an. Allah menempatkan posisi at
Qur'an bukan seba¬gai pemaksa, melainkan sekadar peringatan.
Peringatan kepada siapa? Kepada siapa saja, `yang mau'
mengambil pelajaran dari dalamnya untuk menempuh jalan yang lurus. Di ayat ini,
kelihatan sekali, Allah memberikan kebebasan kepada hamba-hamba-Nya untuk
memilih.
Dan setelah itu, barulah Allah menegaskan bahwa kehendak
manusia berada di dalam bingkai kehendak Allah. Kita tidak bisa berkehendak,
kecuali jika Allah manghendakinya. Dengan kalimat ini kita bisa merasakan bahwa
kehendak manusia bersumber kepada kehendak Allah.
Kebebasan kehendak manusia itu memperoleh penegasan dalam
berbagai ayat lainnya. Bahwa _ setiap kita boleh berkehendak dengan risiko
ditanggung sendiri. Mau maju, atau mau mundur itu terserah kepada kita. Karena
setiap kita bertang gungjawab terhadap apa yang kita lakukan.
QS. Al Muddatstsir (74): 37-38
(yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju
atau mundur.
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah
diperbuatnya.
QS. Al lnsaan (76): 29-30
Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki
(kebaikan) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya.
Dan kamu tidak akan mampu (menempuhnya), kecuali bila
dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Ayat terakhir ini oleh Allah ditutup dengan kalimat: sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Artinya kehendak Allah itu meskipun
terasa otoriter, selalu didasarkan kepada sifat-Nya yang Maha Pemurah, dalam
konteks ini Allah menyebutnya sebagai Maha Bijaksana, karena Dia-lah Dzat Yang
Maha Mengetahui alasan apa yang ada di batik kehendak-Nya itu. Yaitu, agar
manusia menempuh jalan lurus untuk kembali kepada Tuhannya.
Kehendak manusia dalam bingkai Kehendak Allah itu seringkali
membingungkan sebagian kita, karena itu Allah mengulang-ulang penjelasan-Nya
dalam berbagai kesempatan yang lain. Agar kita paham betul, dan tidak
terjerumus ke dalarn kesimpulan yang salah: pasrah bongkokan.
Ayat-ayat di bawah ini misalnya, menjelaskan hubungan antara
iman seseorang dengan kehen¬dak Allah. Seringkali, kita berpendapat bahwa
keimanan itu adalah `hadiah' dari Allah. Karena keimanan adalah hadiah, maka
banyak di antara kita yang tidak melakukan usaha-usaha yang di¬perlukan untuk
meningkatkan keimanan.
Kalau Allah menghendaki, pastilah kita dijadikan-Nya orang yang
beriman, begitulah pikiran sebagian orang. Padahal coba perhatikan ayat berikut
ini. Allah sama sekali tidak memaksa seseorang untuk beriman. Karena keimanan
adalah pilihan dan tanggungjawab masing-masing. Mau beriman silakan, mau tidak
beriman juga silakan. Allah tidak pernah memaksa. Karena itu kita pun dilarang
memaksa orang lain untuk beriman.
QS. Yunus (10): 99-100
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua
orang yang di muka bumf selu-ruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia
supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?
Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin
Allah: dan Allah menimpakan kernurkaan kepada orang-orang yang tidak
mempergunakan akalnya.
Bahkan dalam penutup ayat di atas, Allah mengaitkan keimanan
dengan pepggunaan akal. Memang, keimanan akan terjadi lewat izin Allah, tetapi
secara implisit Allah menegaskan bahwa Allah marah kepada orang yang cara
memperoleh keimanannya tidak mempergunakan akal.
Orang yang .hanya ikut-ikutan dalam beragama dipastikan
keimanannya tidak akan kokoh. Kenapa? Karena mereka tidak melakukan pencarian
dalam beragama. Tidak aktif. Dan tidak mengalarni sendiri. Bagaimana mungkin
keimanan model ini bisa berakar kuat dalam jiwa kita? Keimanan akan menghunjam
kuat, jika kita jatuh bangun terlibat langsung dalam proses beragama itu.
Karena itu, lagi-lagi dalam ayat ini Allah memberikan
penegasan bahwa al Qur'an hanya peri¬ngatan semata. Semuanya tergantung kepada
kehendak dalam diri masing-masing, apakah kita akan menempuh jalan Tuhan atau
tidak...
QS. Al Muzzammil (73): 19
Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barang siapa
yang menghendaki niscaya is menempuh jalan kepada Tuhannya.
Jangankan kita, Rasul pun dilarang memaksa. Beliau tidak
diberi hak sedikit pun untuk itu. Tang-gungjawab atas iman atau kafirnya
seseorang bukan berada di pundak orang lain, meskipun is seorang nabi, tetapi
pada masing-masing diri.
QS. Az Zumar (39): 39-41
Katakan/ah: "Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula) maka kelak kamu akan
mengetahui siapa yang akan mendapat siksa yang menghina-kannya dan lagi ditimpa
oleh azab yang kekal”.
Sesungguhnya kami menurunkan kepadamu Al Kitab untuk manusia
dengan membawa kebenar-an; siapa yang mendapat petunjuk, maka (itu) untuk
dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat
buat dirinya sendiri dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab
terhadap mereka.
QS. Al Qalam (68): 40
Tanyakanlah kepada mereka: "Siapakah di antara mereka
yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?"














Tidak ada komentar:
Posting Komentar